beritadunesia-logo

Provinsi Sulawesi Utara

logoNama Resmi : Kabupaten Bolaang Mongondow
Ibukota : Lolak
Luas Wilayah: 5.397,69  Km2
Jumlah Penduduk:  336.929 Jiwa
Wilayah Administrasi:Kecamatan : 10
Bupati :  Hi. SALIHI MOKODONGAN
Wakil Bupati: YANNY RONNY TUUK
Alamat Kantor:
Telp.
Fax.
Website : http://bolmongkab.go.id/

Sejarah


Penduduk asli Bolaang Mongondow berasal dari keturunan Gumalangit dan Tendeduata serta Tumotoibokol dan Tumotoibokat, awalnya mereka tinggal di gunung Komasaan (Bintauna). Kemudian menyebar ke timur di tudu in Lombagin, Buntalo, Pondoli’, Ginolantungan sampai ke pedalaman tudu in Passi, tudu in Lolayan, tudu in Sia’, tudu in Bumbungon, Mahag, Siniow dan lain-lain. Peristiwa perpindahan ini terjadi sekitar abad 8 dan 9.

Nama Bolaang berasal dari kata “bolango” atau “balangon” yang berarti laut. Bolaang atau golaang dapat pula berarti menjadi terang atau terbuka dan tidak gelap, sedangkan Mongondow dari kata ‘momondow’ yang berarti berseru tanda kemenangan.

Desa Bolaang terletak di tepi pantai utara yang pada abad 17 sampai akhir abad 19 menjadi tempat  kedudukan  istana  raja,  sedangkan  desa  Mongondow  terletak  sekitar   2  km  selatan Kotamobagu. Daerah pedalaman sering disebut dengan ‘rata Mongondow’. Dengan bersatunya seluruh kelompok masyarakat yang tersebar, baik yang yang berdiam di pesisir pantai maupun yang berada di pedalaman Mongondow di bawah pemerintahan Raja Tadohe, maka daerah ini dinamakan Bolaang Mongondow.

Setiap kelompok keluarga dari satu keturunan dipimpin oleh seorang Bogani (laki-laki atau perempuan) yang dipilih dari anggota kelompok dengan persyaratan : memiliki kemampuan fisik (kuat),  berani,  bijaksana,  cerdas,  serta  mempunyai  tanggung  jawab  terhadap  kesejahteraan kelompok dan keselamatan dari gangguan musuh.

Mokodoludut  adalah  punu’  Molantud  yang  diangkat  berdasarkan  kesepakatan  seluruh bogani.  Mokodoludut  tercatat  sebagai  raja   (datu  yang  pertama).  Sejak  Tompunu’on  pertama sampai ketujuh, keadaan masyarakat semakin maju dengan adanya pengaruh luar (bangsa asing). Perubahan total mulai terlihat sejak Tadohe menjadi Tompunu’on, akibat pengaruh pedagang Belanda dirubah istilah Tompunu’on menjadi Datu (Raja).

Tadohe  dikenal  seorang  Datu  yang  cakap,  sistem  bercocok tanam  diatur  dengan  mulai dikenalnya  padi,  jagung  dan  kelapa  yang  dibawa  bangsa  Spanyol  pada  masa  pemerintahan Mokoagow    (ayah    Tadohe).    Tadohe    melakukan    penggolongan    dalam    masyarakat,    yaitu pemerintahan (Kinalang) dan rakyat (Paloko’). Paloko’ harus patuh dan menunjang tugas Kinalang, sedangkan  Kinalang  mengangkat  tingkat  penghidupan  Paloko’  melalui  pembangunan  disegala bidang, sedangkan kepala desa dipilih oleh rakyat.

Tadohe    berhasil    mempersatukan    seluruh    rakyat    yang    hidup    berkelompok    dengan boganinya masing-masing, dan dibentuk sistem pemerintahan baru. Seluruh kelompok keluarga dari Bolaang, Mongondow (Passi dan Lolayan), Kotabunan, Dumoga, disatukan menjadi Bolaang Mongondow. Di masa ini mulai dikenal mata uang real, doit, sebagai alat perdagangan.

Pada zaman pemerintahan raja Corenelius Manoppo, raja ke-16 (1832), agama Islam masuk daerah  Bolaang  Mongondow  melalui  Gorontalo  yang  dibawa  oleh  Syarif  Aloewi  yang  kawin dengan  putri  raja  tahun  1866.  Karena  keluarga  raja  memeluk  agama  Islam,  maka  agama  itu dianggap sebagai agama raja, sehingga sebagian besar penduduk memeluk agama Islam dan turut mempengaruhi perkembangan kebudayaan dalam beberapa segi kehidupan masyarakat. Sekitar tahun 1867 seluruh penduduk Bolaang Mongondow sudah menjadi satu dalam bahasa, adat dan kebiasaan yang sama (menurut N.P Wilken dan J.A.Schwarz).

Pada  tanggal   1  Januari   1901,  Belanda  dibawa  pimpinan  Controleur  Anton  Cornelius Veenhuizen  bersama  pasukannya  secara  paksa  bahkan  kekerasan  berusaha  masuk  Bolaang Mongondow melalui Minahasa, setelah usaha mereka melalui laut tidak berhasil dan ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Riedel Manuel Manoppo dengan kedudukan istana raja di desa Bolaang. Raja Riedel Manuel Manoppo tidak mau menerima campur tangan pemerintahan oleh Belanda, maka Belanda melantik Datu Cornelis Manoppo menjadi raja dan mendirikan komalig (istana raja) di Kotobangon pada tahun 1901. Pada tahun 1904, dilakukan perhitungan penduduk Bolaang Mongondow dan berjumlah 41.417 jiwa.

Pada tahun 1906, melalui kerja sama dan kesepakatan dengan raja Bolaang Mongondow, W. Dunnebier mengusahakan pembukaan Sekolah Rakyat dengan tiga kelas yang dikelola oleh zending  di  beberapa  desa;  yakni  :  desa  Nanasi,  Nonapan,  Mariri  Lama,  Kotobangon,  Moyag, Pontodon,  Pasi,  Popo  Mongondow,  Otam,  Motoboi  Besar,  Kopandakan,  Poyowa  Kecil  dan Pobundayan dengan total murid sebanyak 1.605 orang, sedangkan pengajarnya didatangkan dari Minahasa.

Pada tahun 1937 dibuka di Kotamobagu sebuah sekolah Gubernemen, yaitu Vervolg School (sekolah sambungan) kelas 4 dan 5 yang menampung lepasan sekolah rakyat 3 tahun.
Ibukota Bolaang Mongondow sebelumnya terletak disalah satu tempat di kaki gunung Sia’ dekat  Popo  Mongondow  dengan  nama  Kotabaru.  Karena  tempat  itu  kurang  strategis  sebagai tempat kedudukan controleur, maka diusahakan pemindahan ke Kotamobagu dan peresmiannya diadakan pada bulan April 1911 oleh Controleur F. Junius yang bertugas tahun 1910-1915.

Pada tahun 1911 didirikan sebuah rumah sakit di ibukota yang baru Kotamobagu. Rakyat mulai  mengenal  pengobatan  modern,  namun  ada  juga  yang  masih  mempertahankan  dan melestarikan pengobatan tradisional melalui tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat dan sampai sekarang dibudayakan secara konvensional.

Sejak  semula,  masyarakat  Bolaang  Mongondow  mengenal  tiga  macam  cara  kehidupan bergotong  royong  yang  masih  terpelihara  dan  dilestarikan  terus  sampai  sekarang  ini,  yaitu   : Pogogutat (potolu adi’), Tonggolipu’, Posad (mokidulu). Tujuan kehidupan bergotong royong ini sama, namun cara pelaksanaaannya agak berbeda.

Penduduk  pedalaman  yang  memerlukan  garam  atau  hasil  hutan,  akan  meninggalkan desanya  masuk  hutan  mencari  damar  atau  ke  pesisir  pantai  memasak  garam  (modapug)  dan mencari  ikan.  Dalam  mencari  rezeki  itu,  sering  mereka  tinggal  agak  lama  di  pesisir,  maka disamping masak garam mereka juga membuka kebun. Tanah yang mereka tempati itulah yang disebut Totabuan yang dapat diartikan sebagai tempat mencari nafkah.

Bila ada tamu yang bertandang pada masa kerajaan, biasanya disuguhi sirih pinang, tamu pria atau wanita terutama orang tua. Sirih pinang diletakkan dalam kabela’ (dari kebiasaan ini diciptakan tari kabela sebagai tari penjemput tamu). Tamu terhormat terutama pejabat di jemput dengan upacara adat. Tarian Kabela sampai saat ini tetap lestari di bumi Totabuan.
Tarian yang ada di Bolaang Mongondow cukup beragam diantaranya tarian tradisional yang terdiri dari Tari Tayo, Tari Joke’, Tari Mosau, Tari Rongko atau Tari Ragai, Tari Tuitan; juga tarian kreasi baru seperti Tari Kabela, Tari Kalibombang, Tari Pomamaan, Tari Monugal, Tari Mokoyut, Tari Kikoyog dan Tari Mokosambe.

Upacara  monibi  terakhir  diadakan    pada  tahun   1939  di  desa  Kotobangon   (tempat kedudukan istana raja) dan di desa Matali (tempat pemakaman raja dan keturunannya).
Transmigran ke Bolaang Mongondow pertama kali datang pada tahun 1963 dengan jumlah 1.549  jiwa   (349  KK)  &  ditempatkan  di  Desa  Werdhi  Agung.  Para  transmigran  berikutnya ditempatkan  di  desa  Kembang  Mertha   (1964),  Mopuya   (1972/1975),  Mopugad   (1973/1975), Tumokang (1971/1972), Sangkub (1981/1982), Onggunai (1983/1984), Torosik (1983/1984) dan Pusian/Serasi (1992/1993).

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Bolaang Mongondow menjadi bagian wilayah Propinsi Sulawesi yang berpusat di Makassar, kemudian tahun 1953 berdasarkan Peraturan Pemerintah No.   11  Tahun   1953  Sulawesi  Utara  dijadikan  sebagai  daerah  otonom  tingkat  I.  Bolaang Mongondow dipisahkan menjadi daerah otonom tingkat II mulai tanggal 23 Maret 1954, sejak saat itu Bolaang mongondow resmi menjadi daerah otonom yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri berdasarkan PP No.24 Tahun 1954. Atas dasar itulah, mengapa setiap tanggal 23 Maret seluruh  rakyat  Bolaang  Mongondow  selalu  merayakannya  sebagai  HUT  Kabupaten  Bolaang Mongondow.

Seiring dengan Nuansa Reformasi dan Otonomi Daerah, telah dilakukan pemekaran wilayah dengan terbentuknya Kabupaten Bolaang Mongondow Utara melalui Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2007 dan Kota Kotamobagu melalui Undang-Undang RI No. 4 Tahun 2007 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Bolaang Mongondow.

Tujuan  utama  pembentukan  Kab.  Bolmong  Utara  dan  Kota  Kotamobagu  adalah  untuk memajukan   daerah,   membangun   kesejahteraan   rakyat,   memudahkan   pelayanan,   dan memobilisasi pembangunan bagi terciptanya kesejahteraan serta kemakmuran rakyat totabuan.