Cara mendeteksi kebohongan
Kamis,2015-10-29,16:15:41
(Berita Dunesia) Jakarta - Ada banyak elemen yang harus diperhatikan untuk
mengetahui apakah seseorang berbohong, Pakar Deteksi Kebohongan Handoko
Gani mengungkapkan lima indikator yang penting untuk dianalisa.
Pertama, analisa ekspresi wajah.
"Ini dianggap paling valid," kata Handoko di Jakarta, Rabu.
Menurut
Handoko, riset membuktikan bahwa emosi yang dirasakan seseorang
menjelma dalam ekspresi wajah. Indikator ini dapat diamati juga melalui
foto.
Ekspresi mikro juga tak luput dari pengamatan. Menurut
Handoko, ekspresi mikro adalah ekspresi yang hanya digerakkan 1-2 otot
wajah dan tetlihat selama
1/25 detik.
Ekspresi
tersebut dapat dilihat melalui rekaman yang diperlambat. Seseorang
dapat berbohong dengan memasang mimik muka yang tidak sesuai isi
hatinya. Namun, dia tak bisa menyembunyikan ekspresi mikro karena itu
tak bisa dikendalikan dan dikontrol karena terhubung langsung ke otak.
Kedua
adalah gestur. Tingkat validitas gestur ada di bawah ekspresi wajah,
yakni nomor dua. Sebab, gestur tidak bersifat universal. Bahasa tubuh
seseorang tergantung oleh asal suku bangsa, faktor geografis tempat dia
dibesarkan hingga profesi.
Contohnya adalah gestur mengacungkan
jempol ke bawah. Di Indonesia, gestur ini dianggap negatif karena
bermaksud merendahkan. Namun, gestur yang sama di AS bisa dilakukan saat
ingin menyetop taksi.
Ada beberapa contoh gestur yang dianggap
sebagai ciri-ciri orang berbohong, misalnya mata yang tidak
menatap lawan bicara, tangan yang menggaruk-garuk maupun suara yang
gugup. Handoko mengatakan ciri-ciri seperti itu belum tentu menandakan
seseorang sedang berbohong.
"Kita harus tahu kondisi netralnya
seperti apa," kata dia. Ada orang yang dalam situasi netral memang
terbiasa melakukan sesuatu yang dianggap sebagai ciri-ciri berbohong.
Bila
seseorang melakukan sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan netralnya,
misalnya tiba-tiba tercekat dan menelan ludah padahal sebelumnya
berbicara lancar, maka ada kemungkinan dia sedang merasa cemas, takut
atau gugup.
Ketiga adalah suara. Sama dengan gestur, menilai
suara juga harus dibarengi dengan memahami latar belakang dari orang
tersebut. Misalnya, suara marah orang Sunda atau Jawa tidak bisa
disamakan dengan orang yang berasal dari Sumatera. Keempat dan kelima
adalah kata-kata verbal serta gaya bicara.
Selain lima indikator
itu, ada juga tes poligraf yang berfungsi untuk mengenali perubahan
reaksi pada tubuh ketika berbohong, seperti berkeringat, denyut jantung
lebih cepat, perubahan warna kulit menjadi lebih pucat dan tekanan darah
lebih tinggi.
Handoko menambahkan ketika berbohong tubuh seseorang menjadi lebih kaku dan postur tubuh membungkuk.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015