Wisata Nias Selatan: Sorake Tempat Selancar Terbaik
Pada 28 Maret 2005, gempa melanda kepulauan Nias dengan
kekuatan 8,7 skala Richter yang meluluhlantakkan perumahan, tempat ibadah,
kegiatan pemerintahan, dan pembangunan di daerah tersebut. Sukawi ST MT, Dosen
Arsitektur Fakultas Teknik Undip bersama tim dari Pusat Pelayanan Perencanaan
Pembangunan Partisipatif (P5) Undip bekerja sama dengan UN-Habitat menjadi
fasilitator dalam proses perencanaan dan pengembangan infrastruktur untuk kota Teluk Dalam di Nias
Selatan. Berikut catatan Tim P5 Undip mengenai potensi wisata wilayah tersebut.
KABUPATEN Nias Selatan (Nisel) berada di Utara di Pulau Nias, Sumatra Utara.
Sebelumnya ia adalah bagian dari Kabupaten Nias dengan status otonom diperoleh
pada 25 Februari 2003 dan diresmikan pada 28 Juli 2003. Kabupaten yang
beribukota di Teluk Dalam terdiri atas 104 gugusan pulau besar dan kecil, dan
masyarakatnya tersebar di 21 pulau dalam delapan kecamatan.
Di bidang pariwisata, potensi wisata kabupaten itu sebenarnya cukup
menjanjikan. Banyak pantai indah di sana.
Sorake, salah satunya, akrab di telinga penggemar olahraga selancar, karena
mempunyai ombak yang cukup tinggi. Turnamen selancar tingkat dunia beberapa
kali diadakan di pantai itu.
Ada pula
andalan wisata lainnya, yaitu Pantai Lagundri yang berpasir putih. Pantainya
berada di sebuah laguna, bersebelahan dengan Pantai Sorake, sekitar 13 Km di
selatan Kota Teluk Dalam. Di Kecamatan Pulau-pulau Batu juga ada lokasi
menyelam, terumbu karang, serta ikan-ikan hias plus pantai berpasir putih. Ada juga peninggalan
zaman megalitik berupa batu-batu megalit di Kecamatan Lahusa dan Gomo.
Selain itu, terdapat juga peninggalan cagar budaya, yaitu permukiman desa adat
Nias di Bawomataluo yang terletak di pedalaman dan berada di puncak bukit.
Kompleks tersebut menyimpan banyak pesona, khususnya kehidupan asli masyarakat
di sana dengan
berbagai tradisi di antaranya adalah Hombo Batu atau yang kita kenal sebagai
Lompat Batu.
Kawasan tersebut sangat bagus untuk tujuan wisata. Pasalnya, di sepanjang
Pantai Lagundri dan Pantai Sorake berjajar homestay yang siap melayani dan
membuai wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai. Tarifnya cukup semurah
penginapan melati. Sampai saat ini kalau kita naik feri dari Sibolga menuju
Gunung Sitoli atau naik pesawat dari Polonia Medan ke Binaka, akan menjumpai banyak sekali
turis berkulit putih. Mereka adalah penggemar olahraga selancar yang akan ke
Pantai Sorake dan menikmati keindahan pantai pasir putih di Lagundri. Wajar
saja mereka berdatangan ke sana.
Sebab, Sorake dan Lagundri disebut-sebut sebagai tempat selancar paling baik
kedua setelah Hawaii.
Menurut Harison Sagoto, pemuda setempat, ombak di Pantai Sorake bisa mencapai
ketinggian 15 meter karena langsung berhadapan dengan Samudera Indonesia.
Ombak di sini konon memang sangat ideal untuk berselancar. Yang paling unik,
ombaknya punya lima
tingkatan. Tidak ada tempat lain di dunia yang punya ombak seperti itu. Jadi,
kalau peselancar gagal main slalom di sana,
mereka masih bisa melanjutkan atraksi dengan gaya lain di tiap ombak berikutnya. Bila
gagal lagi, tak perlu berkecil hati karena masih ada tiga jenis ombak menanti.
Jadi, permainan selancar wisatawan akan terasa lebih panjang.
Berkat selancar pula, di sepanjang kedua pantai tersebut tumbuh aneka
penginapan dan kafe. Bolehlah kalau disetarakan dengan Kuta atau Legian.
Sayangnya, Pantai Lagundri dan Sorake hanya ramai pada saat ada kejuaraan
selancar internasional, yang biasanya berlangsung pada bulan Juni hingga Juli.
Pada dua bulan itu, ombak sedang besar-besarnya.
\'\'Selain kedua bulan tersebut, Lagundri dan Sorake tak ubahnya pantai indah
yang sepi, sunyi, dan merana,\'\' cerita Milayar Wau, seorang pengusaha homestay
di Lagundri dengan nada sedih.
Wajar saja pengusaha itu agak meratap. Pasalnya, yang rutin datang di setiap
hari libur atau akhir pekan, hanyalah wisatawan lokal atau masyarakat sekitar
Kota Teluk Dalam. Orang-orang tua dan muda datang untuk mandi di pantai,
berenang-renang, atau jalan-jalan menikmati keindahan laut untuk sekadar
refresing menghabiskan waktu liburan. Dan memang wisata murah meriah seperti
itu jadi satu-satunya pilihan rekreasi warga.
Menjaring Wisatawan
Sebenarnya, telah lama ada upaya untuk mendongkrak pariwisata di kawasan
tersebut. Sebut saja, ketika Sumatra Utara masih dipimpin Gubernur Raja Inal,
di Pantai Sorake dibangun Hotel berbintang bernama Sorake Beach Resort. Hotel
yang diresmikan pada 20 Juli 1994 berbintang empat. Untuk yang ingin merasakan
tidur di bangunan rumah adat Nisel, dibuat juga cottage yang mengambil model
rumah tradisional Nisel.
Ya, sebenarnya Nisel sangat potensial dalam segi wisata. Sayang sekali potensi
tersebut seolah-olah terabaikan karena lupa membangun sarana dan prasarana,
terutama transportasi yang memadai. Padahal berselancar atau sekadar
bertelanjang dada menikmati sinar mentari di pantai menjadi gambaran yang lekat
begitu kata \"Nias\" disebut. Bayangan indahnya pulau itu pun menyeruak
dengan gambaran laut jernih berlapis warna hijau bening dan biru memukau, pasir
putih, dan nyiur pepohonan kelapa. Belum lagi pesona yang memikat dari
peninggalan budaya megalitik dan juga rumah adat ramah lingkungan serta
berbagai hasil karya masyarakat Nias yang telah berumur ratusan tahun.
Selain desa adat Bawomataluo, sebenarnya ada beberapa permukiman adat yang
dapat menjadi andalan wisata Nisel. Sebut saja desa adat Botohilitano yang
banyak memiliki peninggalan batu megalitik, dilengkapi ukiran dan patung
bermotifkan hewan dan tumbuhan. Atau, desa adat Orahili yang merupakan cikal
bakal berdirinya Bawomataluo dengan deretan rumah saling berhadap-hadapan. Pun,
desa adat Hilinawa Mazinge yang mempunyai rumah adat besar atau sering disebut
Omo Sebuo. Rumah adat besar itu tempat tinggal pemimpin dan rumah bangsawan
tertua di Nias. Menurut sebuah buku di rumah besar Hilinawa Mazinge, rumah
tersebut masuk dalam daftar 10 tertua di dunia.
Untuk mencapai desa adat Hilinawa Mazinge, memang harus berjuang ekstra keras
dan siap untuk berpetualang. Ada pengalaman
menarik ketika penulis berkunjung ke sana.
Boleh dibilang, kami agak \'\'nekat\'\' pergi ke sana. Pasalnya, pemandu setempat yang
membantu, ternyata belum sekali pun mengunjungi desa adat tersebut. Tapi
keinginan kuat untuk bisa melihat langsung suasana desa tak menghentikan
perjalanan.
Kami harus menyusuri tiga buah sungai yang tidak punya jembatan. Alhasil, kami
harus rela berbasah-basahan ketika menyeberang. Beruntung benar, penduduk
sekitar mau membantu menyeberangkan sepeda motor yang kami pakai. Tapi sayang,
handphone dan kamera yang kami bawa terendam. Maklum, saat menyeberang, hujan
baru saja turun sangat lebat air sungai meluap.
Dibandingkan dengan daerah lain di Sumatera Utara, Nias bisa dibilang
tertinggal nyaris dalam segala hal. Mungkin ada yang beranggapan bahwa
Pemerintah \"mengabaikan\" Nias. Namun, ada realitas lain yang tidak
boleh diabaikan kemungkinannya, yaitu soal posisi dan keadaan geografisnya
sendiri.
Sebenarnya Nias sangat potensial untuk bisa menjadi daerah tujuan wisata karena
mempunyai alam yang indah. Begitu banyak potensi siap membuai wisatawan dan
diharapkan mampu membuka sejuta peluang pengembangan ekonomi bagi warga. Kenyataannya,
jauh panggang dari api. Untuk menelusuri dan menikmati potensinya yang tersebar
di pulau itu membutuhkan nyali besar.
(/73)
Sumber : www.suaramerdeka.com