Gunung Daik adalah gunung yang terletak di Pulau Lingga, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Gunung ini adalah gunung tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau. Gunung Daik memiliki tiga puncak :
Gunung Daik.
Gunung Pejantan.
Gunung Cindai Menangis.
Gunung Daik memiliki ketinggian 1.165 meter dpl dengan puncaknya memiliki kesulitan panjat tebing 5.9-5.11 North American Grade Standard.
Sejarah
Daik, dahulu hampir seratus tahun menjadi pusat kerajaan Riau-Lingga tapi sekarang menjadi ibu kota Kecamatan Lingga yaitu Kabupaten Lingga. Hampir seratus tahun menjadi pusat kerajaan,Daik tidak seperti yang dapat kita lihat sekarang ini. Sekarang kita tidak berpeluang melihat gunung yang menarik hati dengan cabang tiganya. Gunung Daik yang dulunya menjulang tinggi di Pulau Lingga memiliki tiga cabang. Itulah sebabnya,orang-orang sering menyebutnya dengan sebutan Gunung Daik Bercabang Tiga.
Menurut cerita orang tua dulu,yang pernah saya dengar cabang gunung itu memiliki nama sendiri-sendiri. Seperti;Cabang yang tertinggi disebut dengan Gunung Daik,cabang menengah disebut Pejantan,dan cabang terendah disebut Cindai Menangis. Namun sekarang cabang ketiga ini tidak dapat kita lihat lagi karena sudah lama patah.Diantara ketiga cabang (puncak), cabang terendah itulah yang paling indah bentuknya. Itulah sebabnya,cabang tersebut diberi nama Cindai. Menurut sumber tertulis, cindai bermakna kain sutera yang bersulam bunga-bungaan dan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia yang saya baca “cindai” artinya sutera yang berbunga-bunga.Puncak Cindai Menangis semula bernama Cindai,tanpa adanya kata menangis. Kata “menangis” waktu itu belum melekat pada kata “cindai”. Didasari pada peristiwa tertentu yang pernah terjadi mengapa kata “menangis” ditambahkan pada kata “cindai”.
Ketika saya mengunjungi musium yang ada di daik dan melihat-lihat benda-benda bersejarah,terlintas dalam pikiran saya untuk mengetahui sejarah patahnya gunung daik itu. Kemudian saya pun bertanya kepada penjaga musium itu dan ia pun menceritakan kepada saya apa yang ia tahu.
Katanya,”Sebelum puncak cindai itu patah, masyarakat sekitar yang tinggal dikaki gunung yang indah permai itu sering mendengar suara tangisan. Menurut orang-orang faham yang bermukim disekitar pulau itu, suara tangisan yang selalu terdengar pada malam hari itu bersumber dari puncak terindah gunung itu. Setelah puncak gunung itu patah, suara tangisan itupun tidak pernah terdengar lagi kemudian orang-orang tua dulu menafsirkan bahwa tangisan tersebut menandakan bahwa dirinya akan patah. Dia sedih karena akan berpisah untuk selamanya dengan cabang lain yakni Daik dan Pejantan.Patahnya puncak Cindai Menangis tidak dapat diketahui pasti waktu terjadinya. Namum demikian,orang-orang faham dan kuat yang pernah hidup di Daik, mengatakan bahwa patahnya puncak Cindai ini bersamaan dengan meninggalnya Datuk Kaya Montel”.
Sayapun bertanya lagi “siapa Datuk Kaya Montel itu ?”, beliapun menjawab “Datuk Kaya Montel adalah penjaga laut yang bertempat tinggal terakhir kalinya di Mepar ( mepar adalah sebuah pulau kecil yang terletak didepan Pelabuhan Tanjung Buton saat ini ). Pulau Mepar itu juga dijadikan benteng oleh sultan, yang terletak dibagian selatan Pulau Lingga dan benteng itupun masih ada sampai sekarang. Datuk Kaya Montel sangat terkenal saat itu dan sangat disegani oleh setiap orang, bukan hanya karena kekuatan fisiknya melainkan juga karena kekuatan batinnya. Dalam situasi dan kondisi yang sangat mendesak, beliau dapat berjalan diatas air laut bak berjalan diatas tanah”.
Suatu hari Datuk Kaya Montel jatuh sakit.Banyak orang dari Daik menjenguknya baik dari kalangan istana maupun rakyat jelata termasuk orang laut. Siang,malam, pagi,sore, orang-orang berdatangan kerumah Datuk Kaya Montel di Mepar. Pada awalnya Datuk Kaya Montel suka dengan keikhlasan orang-orang itu menjenguknya yang sedang terbaring sakit. Namum demikian, lama kelamaan datukpun menyuruh agar mereka pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing.
Beliau berkata “saya ini tetap sakit. kalian semua sehat, silakan cari rezeki untuk anak istri. Nanti jika saya sudah tidak bernafas lagi, barulah kalian semua kembali kisini”. Kemudian salah seorang yang selalu menjenguknya bertanya “Mengapa Datuk berbicara seperti itu ?”.
“Tuhan Yang Maha Kuasa memperlihatkan kekuatan yang jauh lebih kuat yang kalian semua sangkakan kepadaku. Dia juga telah memperlihatkan kepadaku keindahan yang paling indah jauh melebihi indahnya puncak Gunung Daik yang setiap hari selalu kita lihat itu. Tubuhku tidak dapat bergerak, tetapi kalbu senantiasa diberikan kekuatan oleh-Nya untuk dapat melihat kebaikan dan keindahan yang selama ini tidak pernah aku lihat, kata Datuk Kaya Montel menjawab pertanyaan itu.
“Bagaimana kami bisa tahu kalau Datuk sudah tidak ada lagi ?”, tanya salah seorang dari mereka lagi.
“Apabila terjadi peristiwa yang tidak pernah terjadi disini, berarti pada saat itulah nyawa ku dicabut oleh Malaikat Maut, maka berkumpullah kalian semua disini”, jawab Datuk Kaya Montel sambil mempersialakan orang-orang itu untuk kembali ke tempat tinggalnya masing-masing.
Belum genap satu bulan setelah orang-orang itu kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Kira-kira tengah malam sekitar jam sebelas lewat, terjadilah ledakan yang sangat dahsyat,yang didahului oleh dentuman petir dan desauan kilat. Pada malam itulah ada kejadian “patahnya puncak Cindai” yang umumnya disebut dengan istilah Patahnya Gunung Daik,bersamaan dengan kejadian itu pula Datuk Kaya Montel menghembuskan nafas terakhirnya.