Berjalan kaki menyusuri kebun teh di bawah suhu sekitar 16 derajat Celsius menjadi keasyikan tersendiri. Berwisata alam ke Gunung Bromo atau Semeru, di sisi selatannya, belum lengkap bila tidak mencoba jalur pendakian alam di sekitar dua gunung terkenal di Jawa Timur itu. Kita akan melihat keelokan alam serta habitat tanaman dua gunung itu yang tidak pernah dijumpai sebelumnya.
Wisatawan, baik lokal maupun manca negara, umumnya menjamah dua gunung itu melalui jalan raya Desa Ngadisari, Kecamatan Sukopuro, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Atau melalui Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, sisi barat gunung Bromo. Bila menuju Gunung Semeru melalui jalur itu, cukup menyeberangi lautan pasir menuju desa Ngadas Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, lalu naik ke kaki hingga puncak Arcopodo Semeru. Rute pendakian lain ke Semeru melalui Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
Salah satu rute pendakian yang praktis jarang disentuh para pewisata alam adalah melalui perkebunan Teh Kertowono milik PTPN XII. Lokasi ini tepat berada di timur Gunung Bromo dan Semeru, atau tepatnya di Kecamatan Guci Alit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Sepanjang sekitar 50 kilometer dari kantor PTPN XII Kebun Kertowono menuju Tengger, pendakian bisa dilakukan melalui tiga wilayah bagian kebun itu (afdeling) yakni Puring, Kamar Tengah, dan Kertosuko. Di atas ketinggian 650 hingga 1.250 meter dari permukaan laut (dpl) kita bisa melihat hamparan pepohonan teh (Camellia Sinensis) seluas 931,82 hektare.
Muji Santoso, administratur kebun itu, kepada Republika di Lumajang beberapa pekan lalu menjelaskan, teh tersebut berjenis teh hitam yang ditanam sejak tahun 1910 oleh NV Ticderman Van Kerchen (TVK), sebuah perusahaan milik pemerintah Belanda yang membuka lahan itu sejak 1875.
”Jenis mutu teh hitam yang Anda pandang dari sini hingga ujung itu sebenarnya hanya dua, ortodok dan CTC (Crushing, Tearing, Curling),” kata Muji. Berjalan kaki menyusuri kebun teh di bawah suhu sekitar 16 derajat Celsius menjadi keasyikan tersendiri.
Namun, jangan berharap menjumpai kerasnya jalan aspal. Kita cuma akan menemui jalan berbatu, berlumpur ketika hujan, dan menanjak. Beruntung bila menjumpai truk pengangkut teh kebun yang menuju salah satu petak tanaman teh yang sedang panen.
Truk itu sebagai penunda rasa lelah berjalan lantaran pendaki bisa menumpangnya. Tapi tak jarang pula truk itu terjerembab di jalan berlumpur. Para karyawan kebun teh sendiri harus rela menarik truk berpuluh-puluh meter jauhnya.
Pemandangan di pagi hari cukup menakjubkan. Kepulan asap puncak Semeru yang menjadi ciri aktivitas gunung tertinggi di Jawa ini menjadi penyegar mata. Terlebih ketika kepulan itu muncul di saat cuaca cerah. Bali, moment termahal di pantai itu kan melihat matahari terbenam saat senja.
http://www.republika.co.id