beritadunesia-logo

Roti Buaya

Roti buaya, panganan “wajib” sebagai seserahan penganten betawi sudah dikenal ma kita semua. Namun sebenernya ni ruti buaye baru dikenal pas masuknya bangsa eropa ke jakarta. Sebelum masa tersebut, seserahan pake kue buaya juga udah ade. Pade awalnya sih bahan dasar kue buaya  dibuatnye dari singkong. Tapi karena katanya bikin roti lebih praktis, akhirnya kebiasaan membuat kue buaya dari singkong ditinggalkan, dan roti buaya menjadi sangat popular hingga kini (padahal rasanya tawar loh). Maksud penggunaan roti buaya pada upacara adat perkawinan betawi mempunyai cerita sendiri. Pola pemukiman masyarakat jaman dulu yang membuat rumah di bantaran sungai meyakini keberadaan buaya putih sebagai penunggu tempat tersebut. Karna itu lah upacara “nyugu” dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.

Karena tradisi menghormati sepasang buaya putih ini kemudian tercermin dalam adat perkawinan betawi. Pihak mempelai laki-laki harus membawa sepasang roti buaya. Karena menurut kepercayaan betawi, buaya putih selalu muncul sepasang. Lebih jauh, hal ini menunjukan bahwa sesungguhnya buaya adalah mahluk yang setia, seumur hidup hanya memiliki satu pasangan hingga ajalnya.

Penggunaan roti buaya pada seserahan itu sendiri banyak macamnya. Pada umumnya, roti buaya untuk acara pernikahan panjangnya 60-70 cm, tergantung kemampuan ekonomi yang mengadakan hajatan. Sepasang roti ini ketika dibawa ke rumah mempelai dihias dengan kertas minyak warna-warni, bersamaan dibawa juga uang mahar, mas kawin, miniatur masjid, kain baju, selop, alat kecantikan dll. Calon mempelai pria juga membawa makanan yang disukai calon istrinya sejak kecil, istilahnya disebut kekudung. Makanan favorit tersebut bisa berupa jengkol, pete, sayur asem, pecak bandeng, sayur pucung/pindang gabus, dan ikan asin.


http://ghiaarya.multiply.com/