Berwisata kuliner di Yogyakarta, tak lengkap rasanya jika tak mencicipi sate klatak, di pasar Jejeran, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Sate yang dihidangkan hanya dengan dibakar dan dibumbui garam ini, justru memunculkan cita rasa daging kambing yang khas. Dan sebagai pelengkap penyedap, ada tambahan irisan kol, tomat, atau mentimun.
Disebut sate klatak, karena memang jenis masakan ini hanya mengandalkan cita rasa dagingnya. Dan justru inilah yang selalu bikin pelanggan ingin kembali untuk menikmati. Selain suasananya yang khas, yang hanya buka pada malam hari dari jam 19 hingga jam 24 atau jam satu dini hari, pelanggan juga bisa duduk-duduk santai berjam-jam.
Dari segi harga, sate klatak Jejeran termasuk cukup tinggi. Satu porsi yang hanya terdiri dua tusuk, penikmat harus membayar Rp 10.000,-. Satu setengah porsi Rp 15.000,-, dan porsi jumbo Rp 20 .000,-.
Menurut M Sabari, sang pemilik warung, kenapa harga sate ini terbilang tinggi, karena irisan daging sate klatak besar-besar, dan hanya menggunakan daging-daging terbaik. Dalam semalam warungnya bisa menghabiskan sekitar 25 kg daging, dengan 10 kg beras.
Saat ini Sabari merupakan generasi ketiga yang berjualan sate klatak. Sebelumnya, ayahnya Wakidi, juga berjualan di sini. Wakidi meneruskan usaha ayahnya yang bernama Ambyah.
Dan kakek Ambyah inilah yang membuka usaha ini pada tahun 1946. Dulu, di lokasi ini Kakek Ambyah berjualan sate di bawah pohon waru. Kini, tempat ini telah berubah menjadi sebuah pasar.
http://tv.kompas.com/