beritadunesia-logo

Upacara Mondosiyo

Upacara adat Mandasiya diadakan di dusun Pancot, Blumbang dan Tengklik Tawangmangu pada setiap hari selasa kliwon Wuku Mandasiya (ada 30 wuku dalam kalender jawa). Upacara adat itu bersumber pada mitologi Prabu Baka, seorang raja lalim yang akhirnya berhasil dibunuh oleh Patut Tetuka dari pertapan Pringgondasi (kemudian dikenal dengan nama Eyang Kancanegara)
Tradisi lisan yang berkembang di Dusun Pancot menyebutkan bahwa asal-usul nama Pancot berasal dari kejadian ketika badan Prabu Baka \"dipancot\" ke tanah oleh Putut Tetuko dan kepalanya dibanting ke sebuah batu (Watu Gilang). Tempat bekas taring Prabu Baka terputus tumbuh tanaman bawang putih dan tanah bekas gerahamnya tumbuh menjadi bawang merah. Dua jenis tanaman ini sekarang menjadi tanaman utama penduduk Pancot dan Blumbang. Sebelum ajal, Baka berpesan agar setiap jatuh Wuku Mandasiya di hari selasa kliwon diadakan upacara bersih desa Mandasiya, dengan memberi sesaji di tempat-tempat keramat seperti kalo di dusun Pancot dilakukan di Punden Bale Pathokan (tempat perkelaian berlangsung), Watu Gilang (tempat kepala Prabu Baka dihancurkan), dan pertapan Pringgodani (tempat pertapan Tetuka atau eyang Kancanegara).

Penyelenggaraan upacara Mandasiya di Dusun Pancot diadakan di Kompleks punden \"Bale Patokan\", yang di dekatnya terdapat \"Watu Gilang\" yang masih dikeramatkan. Watu Gilang disiram air badhek yang didahului penyebaran beras kuning oleh sesepuh Dukuh Pancot. Puncak Upacara ditandai dengan upacara pelepasan nadar dengan melepas sejumlah ayam di atas atap Pasar Pancot. Inilah Atraksi paling menarik dari rangkaian upacara Mandasiya.