beritadunesia-logo

Jibrut

Seni Jibrut ini pertama kali dicetuskan oleh Mang Aji yang hidup antara tahun 1890 hingga tahun 1946. la dilahirkan di Kampung Kiaraeunyeuh Desa Gandasoli, Kecamatan Pameungpeuk Banjaran Kabupaten Bandung. Seni Jibrut ini lahir sekitar tahun 1930 dan berkembang sampai tahun 1945. Ketika Mang Aji masih hidup daerah pertunjukannya bukan saja di Kecamatan Pameungpeuk tetapi berkembang sampai ke luar Kota Bandung. Jibrut merupakan kesenian yang bersifat menyegarkan, selain diselenggarakan di suatu tempat seperti di alun-alun atau lapangan, di Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung dan di Kecamatan Cibatu Kabupaten Garut disertakan pula Arak-arakan Budak Sunat.

Jibrut singkatan dari \"Ji\" (diambil dari nama pencetusnya yaitu Aji) dan \"Brut\" yaitu bunyi ketika telapak tangan dihimpit oleh ketiak kiri atau sebaliknya serta ada pula telapak tangan yang dihimpit oleh Cecekolan (belakang lutut apabila kaki ditekuk atau belakang sikut apabila tangan dilipatkan). Hasil dari gerakan tersebut yaitu mengeluarkan suara prut-prut atau brut brut.

Semula Jibrut merupakan hiburan yang bersifat ringan. Ketika Aji kecil yang dalam hidupnya Pahatu Tatis (Yatim Piatu serta tidak mempunyai saudara ataupun keluarga dekat), is bersama dengan teman¬temannya sering menggembalakan Kerbau, Kambing atau Itik kepunyaan tetangga sekampungnya. Di kala waktu senggang is sering memasukan telapak tangannya ke ketiak yaitu dengan menghentakkan bahulnya maka keluarlah bunyi \"brut\", is mengulanginya berulang-ulang sampai-sampai is pun menari-nari karena senang. Mulutnya tak henti-hentinya memberi Kendangan atau siulan sebagi melodi lagu, temannya pun tidak ketinggalan mereka menberikan tepukan, secara tidak sengaja terjadilah perpaduan antara gerakan Aji kecil dengan tepukan temannya. Dengan begitu timbulah komposisi bunyi yang enak untuk di dengar dan mengundang tertawa.Setelah Aji kecil selesai bermain, karena saking gembiranya, maka teman-temannya rela memberikan bekalnya kepada Aji, setelah itu kemudian mereka tertawa dan bergembira. Ketika Aji berumur ± 30 tahun, kepandainnya membunyikan telapak tangan semakin mantap dan akhirnya ketika Aji berumur ± 40 tahun, is bersama teman-temannya mendirikan Seni Jibrut.

Pada saat itu pertunjukannya bukan saja bersifat sebagai hiburan bagi dirinya sendiri melainkan mereka mencoba memadukan unsur-unsur bunyi \"brut\" tadi dengan hentakan kaki, gerakan pantomin dan lawakan. Bahkan apabila da yang mengundang untuk pesta yang dianggap besar, is dan teman-temannya selain menyajikan Jibrut juga diselingi dengan sajian Lakon (cerita ringan). Cerita yang dibawakan menggambarkan kehidupan sehari-hari. Apabila tidak ada yang mengundang, is bersama teman-temannya biasa keliling kampung dan biasanya dilakukan pada sore atau malam hari. Sore yaitu antara pukul 16.00 sampai pukul 18.00, pagi pukul 10.00-13.00 WIB dan malam pada Pukul 19.00 - 21.00 WIB. Pertunjukan pada malam hari biasanya dihajikan dengan lakon atau cerita yang cukup menarik.

Sumber : http://www.disparbud.jabarprov.go.id