beritadunesia-logo

Rebo Pungkasan

Upacara Rebo Pungkasan merupakan upacara adat yang terdapat di Desa Wonokromo, Kecamatan Plered, Kabupaten Bantul. Dengan pusat kota Yogyakarta, desa tersebut berjarak 10 km ke arah Selatan. Disebut Rebo Pungkasan atau Rebo Wekasan karena upacara ini diadakan pada hari Rabu terakhir pada bulan Sapar. Kata Sapar ini identik dengan ucapan kata arab syafar yang berarti bulan Arab yang kedua. Selanjutnya kata syafar yang identik dengan kata sapar ini menjadi salah sebuah nama bulan Jawa yang kedua dan jumlah bulan yang 12. Dalam upacara ini sebagai puncak acaranya adalah Selasa malam atau malam Rebo.

Dahulu upacara ini dipusatkan di depan masjid dan biasanya seminggu sebelum puncak acara sudah diadakan keramaian, yaitu pasar malam. Namun lama-kelamaan kegiatan itu semakin rarnai, sehingga mengganggu kegiatan ibadah Masjid. Untuk itu atas perintah Lurah Wonokromo, maka segala kegiatan Upacara itu dipindah di depan balai desa yakni di Lapangan Wonokromo.

Upacara ini dipilih hari Rabu, konon hari Rabu terakhir dalam bulan Sapar itu merupakan hari perternuan antara Sri Sultan HB I dengan mBah Kyai Faqih Usman. Berdasarkan pada hari itulah kemudian masyarakat menamakannya dengan Upacara Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan. Maksud diadakan upacara itu adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dalam menyambut Upacara itu biasanya seminggu sebelum puncak acara telah terdapat stan-stan permainan seperti ombak banyu, trem, dremolem, dan sebagainya. Kemudian ada pasar malam yang bentuknya seperti sekaten, yakni ada yang berjualan pakaian, makanan, mainan dan sebagainya. Kirab lemper raksasa 2,5 meter dengan diamter 45 cm merupakan puncak acara. Lemper tersebut kemudian diarak dari Masjid Wonokromo menuju Balai Desa Wonokromo sejauh 2 km. Dalam kirab ini diawali dengan barisan prajurit Kraton Ngayogyakarta, menyusul kemudian lemper raksasa tiruan yang diusung oleh empat orang, dan diikuti lemper yang berukuran sepanjang 40 cm dan 15 cm. Selanjutnya yang di belakangnya lagi adalah beberapa kelompok kesenian setempat seperti Shalawatan, Kubrosiswo, Rodat, dan sebagainya.

Setelah itu baru diadakan pemotongan lemper raksasa oleh pejabat tinggi yang merupakan puncak dari acara tersebut. lemper tadi lalu dibagi-bagikan kepada tamu undangan yang hadir dan pengunjung, dan kekurangannya ditambah dengan lemper biasa yang sengaja dibuat oleh panitia guna menutup kekurangan. Demikian pula Gunungan yang dibawa tadi juga dipotong dan dibagi-bagikan pada pengunjung bahkan untuk rebutan seperti yang terjadi dalam acara sekaten di Kraton Ngayogyakarta itu. Setelah itu Upacara Rebo Wekasan selesai, hanya saja untuk stan-stan seperti ombak banyu, para penjual dan sebagainya itu tetap masih ada kira-kira seminggu lamanya.

http://www.bantulbiz.com