beritadunesia-logo

Goa Cerme

Goa adalah awal dari peradaban. Pada awal kehidupan, manusia menjadikannya sebagai tempat berlindung dari alam yang tidak ramah. Bagi sebagian masyarakat tertentu, goa juga mempunyai makna tersendiri. Goa Cerme di Bantul, Yogyakarta juga mempunyai kisahnya sendiri.

Disinilah Wali Songo memberikan ceramahnya sebelum mereka menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa. Dan di goa ini pula kabarnya para wali itu merancang bangunan masjid Demak yang terkenal.
Jejak-jejak sang wali itu hingga kini masih ada. Kendati sudah bercampur dengan sisa-sisa sesajen serta bau menyengat dari asap hio.

Masyarakat di Jawa Tengah sudah tidak asing dengan Goa Cerme. Goa besar dan panjang ini berada di Kecamatan Imogiri, Bantul. Satu jam perjalanan dari kota Yogyakarta.

Goa Cerme berada di ketinggian 500 meter dari permukaan laut. Gempa yang terjadi beberapa waktu yang lalu membuat sebagian tebing dikawasan ini longsor. Untuk mencapai goa harus berjalan kaki menaiki anak tangga yang cukup terjal hingga sejauh satu kilometer.

Goa Cerme adalah goa paling besar di sini. Masih ada dua goa lain di bukit ini yang diperkirakan terbentuk akibat runtuhnya sebagian tebing. Pada hari-hari tertentu, di goa ini dipadati para dalang yang datang untuk bersemedi dan meminta pesugihan sebelum naik pentas.

Dan inilah Tukimin, si juru kunci goa. Dialah orang yang mengetahui seluk beluk Goa Cerme yang memiliki panjang sekitar 1,5 kilometer. Kami sangat membutuhkan bantuan dia untuk mengantarkan masuk kedalam goa.

Goa ini kabarnya ditemukan oleh Sunan Kali Jaga. Salah satu dari 9 wali penyebar agama Islam di Tanah Jawa. Dinamakan Goa Cerme karena di goa ini para wali memberikan ceramahnya sebelum menyiarkan agama Islam .

Ada 9 lekukan di mulut goa yang diyakini bekas jejak para wali saat memberikan ceramah. Ritual harus dilakukan sebelum memasuki goa. Tukimin percaya ada roh halus didalam goa ini.

Kamipun mulai turun. Didasar goa, kesan seram mulai hilang dan berganti kekaguman. Sulit membayangkan bagaimana para wali saat itu bisa bertahan lama tinggal disini.

Ada sekitar 17 petilasan atau jejak Wali Songo didalam goa ini. Petilasan adalah batu dengan permukaan datar, dimana para wali melakukan meditasi untuk mendekatkan diri pada Sang Ilahi.

Sebagian besar petilasan ini diyakini juga memiliki kekuatan gaib. Goa ini merupakan sumber mata air yang dihiasi dengan kilauan stalaktit dan stalakmit. Disinilah para wali menghabiskan waktunya untuk bermeditasi untuk mendekati diri pada Sang Ilahi sebelum mereka menjalani misi suci menyebarkan agama Islam keseluruh penjuru tanah Jawa.

17 Jejak Sang Wali......
Sekitar 200 meter dari mulut goa suasana terasa lebab, namun tidak pengap karena aliran udara masuk dari kedua ujung mulut goa. Pengunjung yang ingin masuk harus menggunakan helm yang telah dilengkapi lampu. Bila tidak, akibatnya sangat fatal. Bisa tersesat di tengah gelap gulita.

Tinggi air didalam sebatas dengkul. Genangan air berasal dari rembesan dinding goa dan tetesan batu stalaktit dan stalakmit. Kualitas air sangat baik. Jernih, belum terkena polusi dan menjadi sumber kehidupan masyarakat Kabupaten Bantul dan Gunung Kidul.

Dan ini adalah sumber mata air yang mereka sebut air zam-zam. Inilah jejak pertama dari para wali. Disinilah para wali melakukan tirokat dan mengambil air fudhu. Bahkan Tukimin sangat yakin air ini khasiatnya melebihi air zam-zam yang berada di tanah suci Mekah.

Setiap Jumat Kliwon, masyarakat berduyun-duyun berebut air ini untuk meminum dan membawanya pulang untuk sekedar oleh-oleh sehingga tidak harus ke tanah suci Mekah.

Dan mereka yakin air ini memilik khasiat untuk menyembuhkan penyakit atau memberikan berkah bagi yang meminumnya. Ada 17 tempat yang merupakan jejak para wali yang dikeramatkan masyarakat di goa ini. Tempat -tempat inilah yang pernah disinggahi para wali.

Mustoko, adalah batu dari hasil endapan yang mirip kubah masjid. Disini para wali kerap memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Dan di petilasan air suci ini kabarnya Sunan Kali Jaga pernah minum airnya. Naik ke lokasi ini cukup sulit karena batu cukup terjal dan licin.

Kami saat ini sudah berada di tengah-tengah lorong goa, sekitar 700 meter dari mulut goa. Rasa lelah mulai terasa dan perlu beristirahat sejenak. Dan petilasan Kayangan adalah lokasi yang cukup baik.

Tukimin percaya Kayangan adalah tempat dimana para wali melakukan meditasi. Dan sejak itu masyarakat mengkeramatkan tempat ini. Cerme berarti ceramah atau dakwah.

Para wali sebelum menyebarkan agama Islam di tanah Jawa berkumpul di tempat ini. Disini pula mereka merencanakan membangun masjid Demak yang terkenal itu.

Wisatawan cukup banyak datang ke sini. Masuk kedalam goa dipungut biaya 2.000 rupiah. Udara didalam goa cukup sejuk, tidak pengap, seperti yang Kami bayangkan sebelumnya.

Disini juga ada air terjun. Mereka menamakan Gerojokan Sewu. Bersumber dari genangan mata air di ketinggian 2 meter didalam goa.

Dan lokasi ini yang diperkirakan sumber dari air terjun Gerojokan Sewu. Sumber mata air ini tidak pernah kering dan berasal dari rembesan disekitar dinding dan bagian atas permukaan goa.

Khasiat air disini katanya melebihi sumber mata air yang lain. Karena lokasinya semakin jauh kedalam goa. Makin kedalam perjalanan semakin sulit. Air semakin tinggi, Kami khawatir dengan peralatan yang Kami bawa.

Beberapa tempat bahkan sangat sulit dilewati karena celah begitu sempit dengan batu stalakmit yang tajam. Ada beberapa lokasi yang tidak dikeramatkan. Seperti gamelan, lumbung padi, keraton dan panggung altar. Nama-namanya disesuaikan dengan bentuk batu. Misalnya batu ini dinamakan lumbung padi karena kemiripannya.

Atau batu gamelan ini yang terbentuk dari tetesan mineral yang terjadi dalam proses waktu yang sangat panjang. Sebagian lagi mirip pendopo keraton dan altar. Keunikan bentuk ini oleh sebagian masyarakat dipercaya memiliki kekuatan gaib. 6 jam lamanya Kami menyusuri goa hingga akhirnya tiba di bagian mulut goa.

Bagian mulut ini masuk wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Berarti, Kami sudah melintasi 2 kabupaten dengan berjalan kaki sepanjang 1,5 kilometer. Bagi wisatawan yang ingin bertualang goa ini cukup menantang untuk dijelajahi. Sebaliknya, masyarakat disini sudah lama menjadikan goa ini sebagai sumber mata air yang tidak pernah kering.

Kadang pemahaman lugu mereka dikaitkan dengan hal-hal yang bermau mitos. Tidak perlu heran, bila mereka kerap memberikan penghormatan dengan berbagai ritual.

Menyantap Sesaji Sang Wali....
Inilah rumah keluarga Tukimin, sang juru kunci yang menguasai seluk beluk Goa Cerme. Gempa bumi beberapa waktu lalu sempat merusakan rumahnya. Tukimin dan beberapa warga disini sedang mempersiapkan sesaji untuk ritual di Goa Cerme.

Ritual memberikan sesaji kerap dilakukan masyarakat disini dan sebagian pengunjung yang datang dari luar. Tukimin dan keluarganya sudah mempersiapkan beragam makanan yang akan dijadikan sesajen.

Layaknya hajatan besar, namun makanan ini semuanya memiliki arti. Pisang raja misalnya adalah makanan utama dalam ritual ini. Tukimin yang merupakan keturunan ke 20 yang menjadi juru kunci sering melakukan ritual semacam ini.

Pengunjung yang hendak ke goa biasanya memesan makanan dari dia. Ia menyediakan sejumlah paket sesaji dengan harga bervareasi. Paket paling murah harganya 300 ribu rupiah.

Biasanya pada hari Jumat Kliwon ia menerima pesanan cukup banyak. Pengunjung biasanya memesan sesaji untuk ritual meminta berkah. Namun kadang banyak juga pengunjung yang membawa sesajinya sendiri dari rumah.

Sekitar 5 jam lamanya sesaji akhirnya siap dibawa ke Goa Cerme yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari rumah Tukimin. Untuk mencapai mulut goa, mereka harus mendaki lagi anak tangga sejauh 1 kilometer.

Sesaji kemudian diberikan kepada kaum. Seorang sesepuh adat. Kaumlah yang kemudian memulai membuka ritual ini. Ritual ini mirip kenduri.

Biasanya mereka melakukannya untuk menghormati para wali khususnya Sunan Kali Jaga yang menggunakan goa ini sebelum menyebarkan agama Islam. Terkadang ada juga yang melakukannya untuk mengucapkan terima kasih.

Seperti yang dilakukan sebagian warga Gunung Kidul yang daerahnya kerap dilanda kekeringan. Sesaji berarti ucapan terima kasih mereka kepada sang penunggu goa yang telah memberikan air melimpah untuk mengairi sawah dan ladang mereka.

Tapi ada juga yang berlebihan. Mereka adalah yang percaya glaning. Sesaji yang mereka persembahkan ke goa adalah untuk kepentingan pribadi yakni mengharapkan kekayaan hingga jodoh.

Tukimin, seperti warga di desa lainnya yang lain. Baginya Goa Cerme banyak memberikan berkah bagi kehidupan di kampungnya. Sesajian buatan Tukimin Kami nikmati bersama. Ia meminta agar sesaji semuanya harus dihabiskan dan bila tersisa harus dibawa pulang.

Baginya sesaji hanya sekedar makan bersama atau kendurian. Tukimin bersama Kami menyantapnya sambil menikmati keindahan goa dan sekaligus menghormati jasa-jasa sang wali yang jejaknya masih ada di goa ini.

http://www.indosiar.com/