beritadunesia-logo

Siap-siap, Pasola Terbesar di Sumba Barat Digelar Akhir Februari

Jumat,2016-02-26,10:51:26
siapsiap-pasola-terbesar-di-sumba-barat-digelar-akhir-februari | Berita Positive
Ilustrasi Pasola
(Berita Dunesia)
JAKARTA - Pasola, puncaknya perayaan adat di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur akan diselenggarakan Minggu (29/2/2016). Tradisi ratusan tahun tersebut akan berlangsung di Kecamatan Wanokaka, yang merupakan rangkaian terlengkap dan terbesar di Sumba Barat.

"Pasola di Wanokaka sudah ditetapkan tanggal 29 Februari. Wanokaka merupakan yang terlengkap dan terbesar rangkaiannya di Sumba Barat nanti," ujar Anisa Umar, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumba Barat, saat dihubungi KompasTravel, Selasa (23/2/2016).

Tradisi puncak ini akan dipenuhi ribuan orang tepatnya di padang rumput atau savana Lahigalang. Akan ada puluhan pemuda dari 10 dusun/paraingu yang beradu ketangkasan mengendalikan kuda dan menombak lawannya dengan lembing tumpul.

Disbudpar Sumba Barat memprediksi wisatawan akan membeludak seperti tahun-tahun sebelumnya. Seperti di beberapa lokasi yang sudah diselenggarakan Pasola lebih dulu, yaitu Lamboya dan Gaura pada awal Februari 2016.

"Prediksinya akan membeludak di atas 2.000 orang. Lapangan pun biasanya penuh bahkan banyak yang tidak bisa nonton. Mereka telah menginap mayoritas satu hari sebelumnya, karena banyak rangkaian adat juga sebelumnya," ujar Anisa.

Anisa menjelaskan, sejak dua minggu lalu masyarakat Wanokaka dan sekitarnya melakukan rangkaian adat termasuk pantangan-pantangan agar Pasola berjalan dengan lancar. Seperti dilarang membangun rumah, berpesta, hingga bermusik.

AFP PHOTO / ROMEO GACAD Warga bersiap mengikuti tradisi Pasola, perang di atas kuda di Desa Ratenggaro, Sumba, NTT, 22 Maret 2014.
 
Penetapan pelaksanaan Pasola dilakukan oleh rato, leluhur adat atau para imam bagi kepercayaan Merapu.

Penetapan ini dilakukan kurang dari satu minggu sebelum Pasola, dengan melihat tanda-tanda alam yang muncul seperti bulan yang paling terang, dan beberapa jenis tanaman yang mulai tumbuh.

"Jika meleset sedikit saja nyale atau cacing laut di pantai tidak keluar, akibatnya Pasola pun tidak sempurna, dan hasil panen ke depan diprediksi akan buruk," ujarnya.

Maka sejak ditemukannya tanggal pasti itulah, mulai dilaksanakan upacara-upacara adat yang sakral.

Dua malam sebelum pelaksanaan diadakan tinju tradisional antar pemuda dusun yang menggunakan sarung dari jerami. Lalu di siang harinya buah sirih dan pinang yang menjadi buah adat dipanen bersama dan serempak.

Senjata-senjata pusaka adat pun tidak lupa dimandikan satu hari sebelum Pasola. Selanjutnya berziarah sambil melihat bulan di altar megalik dan batu kuburan keramat yang menghias setiap jantung kampung juga dusun.

"Wisatawan mulai ramai sekali biasanya saat Bau Nyale atau pengambilan cacing nyale di pagi hari. Sejak pukul 06.00 pantai sudah penuh wisatawan," ujar Anisa.

Nyale merupakan cacing laut yang keluar satu tahun sekali, dan melambangkan kesuburan bagi masyarakat penganut kepercayaan Merapu. Hasil panen satu tahun ke depan akan bisa diramalkan dari jumlah nyale yang didapat dan darah yang menetes di Pasola.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Menghindari Serangan.
 
Anisa menambahkan rentan waktu yang sangat dekat dari penetuan tanggal pelaksanaan dengan hari pelaksanaannya sendiri, membuat sulitnya wisatawan mancanegara untuk datang.

"Karena penetapannya dadakan, jadi memang sulit untuk wisman mengagendakan datang ke sini. Sebenarnya banyak tour agent yang suka menanyakan tanggalnya. Tapi kan ini disepakati oleh adat, jadi tidak bisa didahulukan," ujarnya.

Menyinggung target wisatawan, menurut Anisa, pihaknya tidak terlalu berharap dari wisatawan mancanegara (wisman). Namun wisatawan domestik ditargetkan lebih dari 2.000 orang.

Begitu juga ketika ditanya perihal hotel-hotel yang sudah dipesan wisatawan apakah masih tersedia, Anisa belum bisa memastikan.
 
 
 
Penulis : Muhammad Irzal A
Editor : I Made Asdhiana
Berita Terkait
DUNIPEDIA - Berita Dunesia
Fitrafood
REAFO