beritadunesia-logo

Belajar Sejarah Juga Bisa Mengasyikkan

Senin,2016-03-21,14:55:54
belajar-sejarah-juga-bisa-mengasyikkan | Berita Positive
pengunjung saat di museum bank indonesia, Kota Tua Jakarta
(Berita Dunesia)
BAGI sebagian orang, sejarah termasuk pelajaran yang menyusahkan di sekolah atau kampus. Alasannya, pelajar atau mahasiswa harus banyak menghafal nama-nama tokoh, peristiwa, tahun kejadian, sampai tempat tertentu. Apalagi, ilmu ini lazimnya terkait hal-hal dari masa lalu.

Padahal, sejarah bisa menjadi salah satu pelajaran mengasyikkan di tengah kemajuan teknologi yang begitu cepat seperti sekarang. Sejarah tidak hanya ada di buku-buku tebal, tetapi juga di berbagai media dan tempat.

Sebut saja novel, film dan video, teater, diskusi, berkunjung ke museum dan gedung-gedung tua, koleksi benda antik, hingga bertanya kepada saksi hidup.

Ada banyak film sejarah terkait Indonesia, seperti November 1828, Tjoet Nja’ Dhien, Sang Kiai, Soegija, Gie, Oeroeg, Hati Merdeka, Sang Penari, 3 Nafas Likas, Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Soekarno: Indonesia Merdeka, dan Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI. Di luar itu juga ada film dokumenter dan video singkat tentang suatu peristiwa yang bertebaran di internet.

Datang ke museum juga seru untuk belajar sejarah. Tak hanya tentang peristiwa nasional, tetapi juga tentang berbagai hal, mulai dari senjata, perhiasan, alat musik, angkutan, perabot rumah tangga, mata uang, hingga tekstil dan pakaian.

Semua cara itu memudahkan kita untuk mempelajari sejarah. Sejarah tak melulu bersumber dari buku bacaan, tetapi juga tontonan, sentuhan, percakapan, dan interaksi sosial. Jika cara-cara ini bisa ditempuh, belajar sejarah juga bisa mengasyikkan, bahkan relevan dengan masa kini.

Berbagai sumber

Menurut Wildan Habibi, mahasiswa Program Studi Sejarah Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, belajar sejarah yang menyenangkan adalah melalui karya sastra.

”Banyak unsur fiksi, tetapi latar waktu, tempat, dan suasana serta sebagian fakta dalam cerita merupakan fakta historis. Jadi, walau tidak bisa dijadikan patokan utama untuk belajar sejarah, karya-karya tersebut bisa membantu untuk memahami latar suasana pada kurun waktu yang diceritakan,” kata Wildan.

Salah satu karya sastra yang menarik minatnya adalah novel Burung-burung Manyar karya Romo Mangunwijaya. ”Alur ceritanya menarik, membuat saya ingin mencari lebih jauh narasi sejarah yang melatari karya tersebut,” ujarnya.

Lain dengan Muhammad Nailur Rofi, mahasiswa Hukum Tata Negara Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya. Bagi dia, berkunjung ke berbagai museum dapat membantu untuk mengetahui fakta sejarah lebih komprehensif melalui benda-benda peninggalan masa lalu.

Untuk itu, dia berharap museum segera berbenah dan mengeluarkan ide-ide inovatif agar kian memikat masyarakat untuk mengunjunginya. ”Tidak semua orang suka membaca, apalagi buku-buku yang tidak mengandung humor, seperti buku sejarah,” katanya.

Selain museum, kunjungan ke kota tua atau daerah yang memiliki bangunan menarik dari masa lalu juga dapat mendorong orang peduli pada sejarah. Dari berbagai bangunan lama, kita belajar tentang arsitektur, kearifan lokal, dan budaya.

Putu Widyantari, mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, menilai, film adalah media asyik untuk belajar sejarah. Jika hanya disampaikan oleh guru di kelas, sejarah pasti membosankan.

”Film membuat generasi muda tertarik belajar sejarah, apalagi sekarang ada pula film animasi sejarah, seperti Battle of Surabaya. Setelah itu, guru dan murid dapat berdiskusi, bertanya, dan mengeluarkan pendapat tentang film atau peristiwa tersebut,” tuturnya.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Pengunjung berfoto di depan Museum Sejarah Jakarta di Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (26/10/2016). Kota Tua yang menyimpan banyak sejarah Jakarta menjadi daya tarik bagi warga dan wisatawan baik asing maupun nusantara untuk berkunjung.
 
Pendapat senada mengemuka dari Risvani Nur Naratri, mahasiswa Program Studi Agrobisnis Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Belajar melalui film juga cocok buat mereka yang kurang menyukai membaca banyak buku.

”Reka adegan dalam film membuat kita lebih memahami perjuangan si tokoh,” katanya.

Menyajikan sejarah

Tantangan menyajikan sejarah sebagai pelajaran menarik menjadi prioritas Veronika Indri Tri Utami, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Sebagai calon guru Sejarah, dia ingin mengubah paradigma tentang sejarah. Salah satunya dengan menerapkan metode inovatif, kreatif, dan menyenangkan, misalnya mengangkat peristiwa sejarah ke dalam drama.

”Materi dapat diambil dari peristiwa Proklamasi, Rengasdengklok, atau Pertempuran Surabaya. Tujuannya, siswa dapat menyelami peristiwa sejarah nasional dengan memerankan tokoh sejarah ini,” ujar Indri.

Suasana kelas pasti akan lebih menarik jika sekeliling dinding kelas dilengkapi foto-foto terkait sejarah dan replika tokoh-tokoh sejarah. Ada pula yang senang menulis dan membagikan peristiwa sejarah melalui blog atau terbitan lain di media.

Jadi, asal tahu caranya, pelajaran sejarah juga bisa mengasyikkan. Betul tidak? (TIA)
 
 
 
Editor : I Made Asdhiana
Sumber : Harian Kompas
 
Berita Terkait
DUNIPEDIA - Berita Dunesia
Fitrafood
REAFO