beritadunesia-logo

International News



Capres Singgung Hubungan RI-Australia, Ini Komentar Marty

Rabu,2014-06-25,09:09:47
Menlu RI Marty Natalegawa dan Menlu Australia Julie Bishop. (REUTERS/Beawiharta)
(Berita Dunesia) Jakarta - Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa, menyetujui pernyataan kedua calon presiden saat menjawab isu mengenai hubungan Indonesia dengan Australia dalam acara debat capres, Minggu 22 Juni 2014 malam. Menurut dia, pendapat Prabowo Subianto maupun Joko Widodo mengenai hubungan kedua negara adalah pendapat yang bijak.

Pernyataan itu dikemukakan Marty di Hotel Sari Pan Pacific, Selasa 24 Juni 2014 malam, di sela Sidang Komisi Bersama V antara Indonesia dan Bulgaria.

"Pernyataan keduanya sangat bijak. Mereka mengedepankan masalah trust, saling percaya. Itu, sesuatu yang selama ini disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri. Intinya, sekarang apakah Australia melihat Indonesia sebagai kawan atau lawan," kata dia.

Pernyataan serupa pernah dilontarkan oleh Marty ketika menjawab pertanyaan media paska skandal penyadapan yang dilakukan oleh Badan Intelijen Australia (DSD) terbongkar. Marty mengaku jengkel, karena sebagai negara tetangga, Australia malah menggunakan kemampuan teknologi intelijennya untuk memata-matai RI.

"Intinya, Australia harus memutuskan, RI ini dianggap sebagai sahabat atau musuh. Sangat sederhana, karena ini semua soal niat," ungkap Marty pada Februari lalu.

Isu ini mengemuka ketika capres nomor urut dua, Joko Widodo, bertanya kepada capres nomor urut satu, Prabowo Subianto, soal fluktuasi hubungan bilateral Indonesia dan Australia. Menurut Prabowo, fluktuasi itu bukan berakar dari Indonesia, melainkan Negeri Kanguru itu sendiri. Prabowo menyebut masih ada rasa curiga Australia terhadap Indonesia.

"Saya kira, mungkin Australia memiliki semacam kecurigaan atau fobia terhadap kita. Kita negara dengan jumlah penduduk besar dan sering dianggap emosional. Kita pernah beberapa kali melakukan tindakan militer. Mereka (Australia) anggap kita sebagai ancaman," ujar Prabowo pada Minggu malam lalu.

Menurut mantan Danjen Kopasus itu, tidak ada yang salah dengan Indonesia, karena RI ingin bersahabat baik dengan semua negara.

"Sudah menjadi kewajiban kita untuk meyakinkan bahwa kita ingin jadi tetangga yang baik, tidak mau berbuat yang enggak-enggak. Kita sahabat, bukan ancaman. Kita harus buktikan niat kita baik, tetapi harus tegas dalam mempertahankan kepentingan inti kita," ujarnya.

Senada dengan Prabowo, Joko menekankan ada dua hal penting yang memicu ketidakstabilan hubungan RI dengan Negeri Kanguru. Di antaranya, adanya ketidakpercayaan, sehingga terungkap kasus penyadapan Australia terhadap RI.
Berita Terkait
WIAPEDIA
Fitrafood
REAFO
GFS